Baca Berita

Pasek ?? Apaan Sih ??

Oleh : mgpssr | 30 April 2016 | Dibaca : 1828 Pengunjung

www.mgpssr.or.id - KLUNGKUNG. Ketika MGPSSR telah mulai mengembangkan sayap untuk merangkul semeton agar bisa “sadar diri”, namun masih banyak di antara semeton Pasek sendiri yang justru belum bergeming. Kegundahan ini diungkap secara lugas oleh Bli Tut Sumarya dalam tulisan berikut :
 
Pasek sering dikatagorikan hanya sebagai pelengkap. Bahkan ada yang sampai menganggapnya hanya pelengkap penderita. Hal itu antara lain sebagai akibat pasca penguasaan Bali oleh Majapahit, di jaman baheula dulu, mereka lebih suka di posisi jaba. Mayoritas dari mereka tetap melaksanakan bela negara namun tidak doyan kekuasaan. Sebagian besar keseharian mereka digunakan hanya untuk memelihara tri mandala peninggalan para pendahulunya yang warga wed Bali.
 
Memang harus juga diakui bahwa sebagian dari mereka, statusnya terlalu lama di posisi pengayah serta posisi marginal lainnya. Dan apesnya lagi… kalangan warga Pasek kelas lawas rupanya ada yang menikmati posisinya itu. Bahkan banyak diantara mereka yang justru merasa amat bangga manakala dilabeli status Parekan Seken, parekan tengen, sendin jineng atau parek tatadan oleh para boss di era lawas tempo dulu.
Sebutan yang sama sekali tidak mencerminkan kesetaraan sebagai Sang Dumadi semacam itu, sesungguhnya tidak perlu berkelanjutan. Atau paling tidak generasi milenium saat ini tidak meneruskan itu dan segera mengubahnya. Sangatlah sempurna apabila secara egaliter perubahan itu dilakukan sendiri !!
Mengapa sendiri ??
Karena kemandirian itu selalu menjadi nilai tak terhingga manakala suatu saat kelak, kesetaraan menuntut haknya.
Seiring dengan kemajuan Iptek maka Warga Pasek memang wajib berubah. Apalagi Iptek di bidang informatika yang begitu tanpa aling-aling, sangat membuka wawasan siapapun untuk kemudian jadi pemilik jamannya. Termasuk warga Pasek.
…..
Sebagian besar warga Pasek memang aneh. Agak susah dipahami manakala mereka tidak segera ‘Ngeh’ atas fungsi dan peran linggih Ratu Pasek sebagai salah satu Catur Lawa di Penataran Agung Besakih. Begitu juga peran strategis mereka di desa adat/pekraman sebagai pinanditha, pengemong maupun penyungsung pura-pura di berbagai tingkatan. Demikian pula dengan kesejarahan para leluhur mereka yang terdiri dari para sinuhuning jagat macamnya Hyang Sapta Panditha maupun Hyang Panca Panditha. Juga indikator lain macam leluhurnya yang bergelar Gusti Agung Pasek Gelgel. Yang kesemuanya membuat mereka patut untuk tidak sungkan dan tanpa mecik manggis menjawab : “Saya semeton Pasek” manakala ditanya tentang ‘Antuk Linggih’ oleh siapapun dan dimanapun serta dalam keadaan apapun.
…..
Sejarah mesti dan harus dipelihara secara jujur. Untuk selanjutnya dijadikan refrensi dalam rangka kebersamaan membela Bali agar menjadi lebih baik dan modern.
 
Feodalisme dalam segala bentuknya harus disadari sebagai penghambat terwujudnya modernisasi. Karena modernisasi sesungguhnya bukan hanya tentang atribut kekinian semata. Tetapi juga berkaitan dengan sikap mental dalam menyambut perubahan yang semakin butuh kebersamaan.
Barangkali butuh waktu !!! Tetapi warga Pasek harusnya memulai sebagai agent of developement atau pelopor perubahan. Bukan sebaliknya justru menjadi agen dari feodalisme itu sendiri akibat keasyikan bercengkrama dengan masa lalu.
 
Apa yang ditulis Bli Sumarya di atas perlu dijadikan bahan renungan bagi semua semeton yang mengaku dan merasa sebagai warih Ida Ratu Pasek. Mari berubah dan dimulai dari diri sendiri. Semoga kita senantiasa bakti kepada Ida Bethara Kawitan, ingat pada Bisama dan guyub di pasemetonan. (mgpssrklungkung.or.id)


Oleh : mgpssr | 30 April 2016 | Dibaca : 1828 Pengunjung


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 



 AGENDA KEGIATAN
Foto Kegiatan

TWEET TERBARU
-
FACEBOOK FANS
-