Baca Berita

PASEK, sebuah OTOKRITIK

Oleh : mgpssr | 14 September 2016 | Dibaca : 1999 Pengunjung

 
Membicarakan keberadaan warga Pasek nyaris tidak akan pernah menggapai kesimpulan akhir. Terlebih memperdebatkan posisi dan perannya dalam fluktuasi dinamis perkembangan sosial kemasyarakatan Bali. Mengapa? Terlalu banyak sudut yang harus dipilih buat mengawali maupun menuntaskan ceritranya.
 
Sebagai kelompok yang konon mayoritas di tatanan warga Bali, ternyata sebagian besar warga Pasek kerap mendendangkan nyanyi kebimbangan fundamental dalam hal kesujatian dirinya. Banyak diantara mereka yang mengambil posisi gamang manakala harus secara tegas melaksanakan Swadharmaning Wargi.
 
Padahal peran mereka dalam kesejarahan Bali sejak era Bali tempo dulu hingga kini, dicatat sebagai kalangan yang memegang teguh swadharmanya. Mereka menjadi bagian tidak terpisahkan dalam rangkaian perkembangan Puri maupun Gria sebagai pusat budaya dan seni. Dan mereka begitu mudah merasuk ke karakteristik kalangan itu karena sesuai Bisama leluhurnya, sesungguhnya pada darah mereka juga mengalir karakter ksatria maupun brahmana.
 
Namun sungguh menjadi ironi mencengangkan manakala warga Pasek sendiri, ada yang bahkan meragukan kredibilitas Mpu Pasek sebagai seorang Sulinggih. Padahal semua tahu bahwa setiap manusia Hindu wajib melaksanakan ajaran Catur Ashrama dan berHak merealisasikannya dalam kehidupan.
 
Dimana salah satu daripadanya adalah meningkatkan posisi Grhasta Ashrama menuju ke Wanaprastha Ashrama. Yakni posisi ashrama dimana menjadi Sulinggih bagi setiap manusia Hindu adalah absah adanya.
 
Situasi semacam itu menerpa sebagian besar warga Pasek. Sehingga menjadi semacam thema wajib-bersambung bagi setiap tokohnya disaat mematut strategi guna merengkuh solusi memecah kegamangan itu. Mereka senantiasa menggemakan ke kedalaman sanubari setiap warga Pasek agar mengerti dan selanjutnya menjalankan apa sesungguhnya yang menjadi kewajiban dan hak setiap mereka sebagai manusia Hindu.
 
Berbagai langkah strategis dilakukan, dan itu nyaris tak mengenal waktu. Karena telah diupayakan sejak tahun limapuluhan sampai kini !!! Dalam kurun itu, adakah pencapaian signifikan sebagaimana yang diniatkan? Jawabnya 'nyaris' ada. Hanya belum maksimal sebagaimana seharusnya bila dikaitkan dengan perkembangan kekinian. Dimana tekhnologi informasi dan kwalitas sumber daya manusia begitu mumpuni untuk dimaksimalkan sebagai pendukung semua upaya. Lalu apanya yang salah?? Jawab atas pertanyaan itulah yang tidak boleh berhenti pada mengais sampai dalam semata hanya pada pengalaman para tokoh sebelumnya. Harus dibarengi tindak lanjut untuk segera dituntaskan dalam wujudnya yang riil sesuai harapan. Hal itu mengingat begitu banyak hal yang sesungguhnya dapat ditindak lanjuti dari apa yang telah diperjuangkan oleh para tokoh Pasek hingga saat ini. Barangkali dalam menyongsong era berikutnya perlu dilakukan beberapa langkah mendasar sebelum dilakukannya action strategis. Salah satunya adalah melakukan evaluasi objektif dalam rangka mencari jawab atas musabab kegamangan sebagian besar warga Pasek. Juga menilai efektifitas pencapaian kegiatan apapun termasuk yang secara berkala dilaksanakan di Sekretariatnya yang megah. Intinya adalah Evaluasi dan Evaluasi serta Evaluasi guna Menakar komitmen terbarukan sebagai landasan bertindak. Agar strategi tidak monoton. 
 
24 April 2016 yang lalu dirayakan sebagai hari jadi paguyuban pasemetonan warga Pasek - Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) - untuk kali ke 64.
 
64 tahun tentu bukan waktu yang pendek. Juga bukan waktu yang tanpa pesan apapun bila mau ditelisik untuk menyongsong datangnya era baru.
 
Tidak mudah memang!!! Namun adanya beberapa tokoh yang mulai nimbrung menata kelola MGPSSR plus pengurus berkomitmen lainnya serta kaum muda mereka di seluruh Indonesia, maka tidak ada alasan apapun untuk menafikan keyakinan bahwa hanya masalah waktu saja bagi warga Pasek seluruhnya untuk semakin memahami hak dan kewajibannya. Untuk kemudian melalui MGPSSR menebar marwahnya tidak hanya bagi Bali tetapi juga bagi Indonesia yang lebih maju.
 
Penulis : Ketut Sumarya


Oleh : mgpssr | 14 September 2016 | Dibaca : 1999 Pengunjung


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 



 AGENDA KEGIATAN
Foto Kegiatan

TWEET TERBARU
-
FACEBOOK FANS
-